Sabtu, 26 Desember 2015

Sky is he Limit

Pernah lahir sebuah kisah dari Kerinduan yang amat dalam.
Tentang sepasang awan dan gunung yang tak saling menyelaraskan.
Satu merindukan sementara yang lain mengabaikan...

Ialah Gunung yang memendam rindu kepada Awan,
Sejak pertama kali ia mampu menjejakan tubuh dengan menjulang.
Bahkan dalam setiap detik waktu yang melaju,
Gunung tak pernah luput memandangi awan yang berarak riang dari kejauhan.



Ada satu Pesona,
yang membuat Gunung jatuh kagum pada Awan dengan segala pikatnya yang paling pekat.
Hingga suatu kali, kekaguman gunung tandas.
Menjadi keinginan untuk memiliki.



Gunung ingin menggapai Awan.
Namun,sebagai yang memesona,
Awan seolah tak peduli pada apa saja selain pesonanya sendiri.
Awan berlalu dan berlari.
Menjelma arakan kapas yang menunggang angin,untuk membawanya ke atas lautan.
Abai pada kerinduan Gunung.



dan benarlah kata Si Penyair..
Jarak rindu dan benci hanya setipis air mata dan tangis.
Kerinduan Gunung yang teramat dalam
Justru mengubahnya menjadi perasaan benci dan kesumat,
yang siap melahap sampai lumat.


Gunung bersiap melonjak.
menumpahkan segala amarah yang berdebar di dalam dadanya sebagai pembalasan,
dari pengabaian Awan.
Bumi Berguncang menahan ledakan amarah gunung.
Tak kuasa membendung serapah
Gunung yang menyalak dan membakar seperti api yang berpijar.




Kelak di penjuru dunia yang lain menyebutnya sebagai bencana.
Mereka tak pernah tahu...........
Bahwa itu adalah amarah Gunung kepada Awan
Karena rindunya yang terabaikan///

Tidak ada komentar:

Posting Komentar